Selasa, 04 Mei 2010

PERASAAN TAKUT PADA ALLAH SEBAGAI BEKAL SEBELUM MENINGGAL

Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah mata seseorang meneteskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Dan apabila air matanya mengalir di pipi maka wajahnya tidak akan terkotori oleh debu kehinaan. Apabila seseorang pada suatu kaum menangis, maka kaum itu akan dirahmati. Tidaklah ada sesuatupun yang tak mempunyai kadar dan batasan kecuali air mata, sesungguhnya air mata dapat memadamkan lautan api neraka.”
Allah swt. Berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakanHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (At-Tahrim: 6-8).
Mengapa manusia tidak menangis untuk menebus diri dari siksa neraka, padahal maut senantiasa mengintainya, kuburan akan menjadi tempat tinggalnya dan Hari Kiamat pemberhentiannya. Di saat itu para pengawasnya adalah malaikat, Sang Hakim adalah zat yang mahamemaksa, neraka adalah penjaranya dana Zabaniah sebagai penjaganya. Dan bagaimana mungkin ia akan sanggup menahannya, padahal terhadap sengatan matahari mereka tak tahan?
Dalam musnad Imam Ahmad pada hadits Abu Umamah disebutkan, Rasulullah saw barsabda:
“Pada hari Kiamat matahari mendekat sampai kira-kira satu mil, panasnya kian bertambah, membakar kepala seperti menggodok periuk, pada saat itu manusia mengucurkan keringat sepadan dengan dosa yang diperbuat. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai mata kakinya, ada yang mencapai siku tangannya, ada yang berkeringat sampai pusarnya dans ebagian yang lain ada yang tenggelam dalam keringatnya.”
Apabila kadar matahari sedemikian panasnya, maka bagaimana dengan panas api neraka? Dan jilau panas api dunia sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw.: satu bagian dari 70 bagian panas api Jahannam. “Ya… Allah, jauhkanlah kami dari sengatan api neraka, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu, tempat yang nyaman dengan rahmat-Mu.”
Diriwayatkan bahwa seorang kakek melihat bocah kecil yang sedang berwudhu di tepi sebuah sungai, sedang menangis. Si kakek bertanya, “Hai bocah kenapa kamu menangis?” Bocah itu menjawab, “Wahai paman, ketika aku membaca Al-Qur’an kemudian aku sampai pada firman Allah swt:
“Wahai manusia, jauhkanla dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).
). Timbullah ketakutanku akan dicampakkan ke dalam neraka.”
Lalu si kakek berkata, “Wahai bocah kecil, janganlah engkau takut, kau tidak akan dicampakkan ke dalam neraka, sebab kamu belum baligh, kau tidak layak dimasukkan ke dalam neraka.”
Kemudian si bocah itu berkata, “Wahai pak tua, engkaukan berakal, apakah engkau tidak tahu bahwa jika seseorang ingin menyalakan api ia memasukkan kayu bakar yangkecil dahulu baru kemudian ia akan memasukkan kayu yang lebih besar.”
Menangislah si kakek seraya berkata, “Sesungguhnya bocah kecil itu lebih takut pada neraka disbanding aku.”

Label:


UJIAN DENGAN KENIKMATAN DAN COBAAN

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu[1479] maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghabun: 14)
Kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Mengapa demikian?
Yang dimaksud musuh dalam ayat di atas bukanlah atas dasar kebencian dan pertentangan, akan tetapi yang dimaksud adalah dalam bentuk kecintaan yang amat angat kepada anak atau istri mereka sehingga dapat mengahalang-halangi seorang bapak atau suami untuk berhijrah, jihad, belajar ilmu, atau hal lain yang berurusan dengan agam dan amalan-amalan kebaikan tentunya demi menyempurnakan akidahnya di jalan Allah swt.
Dari uraian di atas tentunya anda dan saya dapat memetik sebuah hikmah bahwa kenikmatan yang Allah berikan itu bisa saja menjadi ujian buat kita. Tidak hanya hal-hal yang buruk saja seperti musibah, sakit, lilitan hutang, atau cobaan lain yang menjadi ujian dalam hidup kita. Keduanya antara kenikmatan dan cobaan merupakan ujian yang Allah swt. berikan agar saya dan tentunya anda dapat bersabar dan ikhlas dalam menjalani hidup ini.

Label:


KENIKMATAN ALLAH KEPADA HAMBANYA

Pernahkah Anda menghitung kenikmatan yang telah Allah berikan kepada Anda? Coba sekarang mulailah Anda mencatat daftar kenikmatan di dunia ini yang telah Anda rasakan. Siapa diantara kalian yang bisa menentukan jumlah kenikmatan yang telah Allah limpakan pada kalian.
Apa yang akan Anda lakukan jika musibah atau sakit menyerang Anda? Mengeluhkah? Menangiskah? Atau meratapi sakit yang Anda derita saat ini. Coba ingatlah orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan tidak ada seorangpun yang membantunya. Jika Anda yang mengalami hal demikian masihkah Anda tetap mengeluh dan menangis kesakitan? Sementara keluarga dan teman-teman Anda masih banyak yang peduli yang bersedia menjenguk serta menghibur Anda.
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisah, meskipun Anda masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat. Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar dan kemudian syukurilah!
Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya di dunia ini, melainkan untuk dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Sudah seharusnya orang yang diberi nikmat untuk menyempurnakan dan menggunakan kenikmatannya dengan beramal yang ikhlas dan hanya mengharap ridho-Nya.

Label:


KENIKMATAN ALLAH KEPADA HAMBANYA

Pernahkah Anda menghitung kenikmatan yang telah Allah berikan kepada Anda? Coba sekarang mulailah Anda mencatat daftar kenikmatan di dunia ini yang telah Anda rasakan. Siapa diantara kalian yang bisa menentukan jumlah kenikmatan yang telah Allah limpakan pada kalian.
Apa yang akan Anda lakukan jika musibah atau sakit menyerang Anda? Mengeluhkah? Menangiskah? Atau meratapi sakit yang Anda derita saat ini. Coba ingatlah orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan tidak ada seorangpun yang membantunya. Jika Anda yang mengalami hal demikian masihkah Anda tetap mengeluh dan menangis kesakitan? Sementara keluarga dan teman-teman Anda masih banyak yang peduli yang bersedia menjenguk serta menghibur Anda.
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisah, meskipun Anda masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat. Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar dan kemudian syukurilah!
Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya di dunia ini, melainkan untuk dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Sudah seharusnya orang yang diberi nikmat untuk menyempurnakan dan menggunakan kenikmatannya dengan beramal yang ikhlas dan hanya mengharap ridho-Nya.

ALLAH MAHA PEMBERI RIZKI

Sering kita mengeluh dengan rizki yang kita dapat. Selalu saja manusia merasa kurang dengan rizki yang telah dia peroleh. Padahal Allah swt. telah menjamin rizki dan segala kenikmatan setiap umat manusia di dunia selama ajal belum menjemput.
Coba kita perhatikan bagaimana dengan janin di perut sang ibu. Akan datang padanya makanan berupa darah dari satu jalan yaitu pusar. Ketika sang bayi keluar dari rahim maka terputuslah jalan itu (melalui pusar) dan tentunya akan dibukakan jalan makanan yang lain yaitu air susu yang bersih dan mudah diminum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Apabila waktu menyusui sudah sempurna dan terputuslah jalan itu dengan disapih, maka Allah swt. Akan membuka jalan yang lebih sempurna, yaitu dengan dua makanan dan dua minuman. Kedua makanan itu dari binatang dan tumbuhan. Juga kedua minuman itu dari air bersih dan susu yang segar. Dari keduanya dapat diambil manfaat dan kelezatannya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Jika manusia itu telah meninggal maka terputuslah jalan itu. Akan tetapi, Allah swt akan membukakan jalan bagi orang-orang yang beriman, yaitu jalan menuju pintu-pintu surga yang akan bisa masuk sesuka hatinya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Demikian Allah swt. Memberikan jalan yang mudah dan rizki yang berlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin. Sesungguhnya Allah swt. Tidak akan ridho dari sesuatu yang rendah lagi hina kepada hamba-Nya.
Apabila Allah swt. Mencegah sesuatu melainkan Dia akan memberikan sesuatu yang lebih tepat. Allah swt. Tidak akan menguji kecuali untuk mencegahnya dari kejelekan dan musibah. Allah swt tidak pula memberikan cobaan kecuali untuk membersihkan hamba-Nya dari perbuatan hina. Sesungguhnya Allah tidak akan mematikan makhluknya kecuali untuk dihidupkan kembali. Dan satu lagi kekuatan dari nikmat yang Allah berikan adalah Allah swt tidak akan menciptakan kehidupan ini kecuali untuk mempersiapkan hamba-hamba-Nya menghadap kepada-Nya dan berjalan pada jalan yang mengantarkan kepada-Nya. Seperti dalam firman-Nya:
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”(Al-Furqan:62)

Label:


KEUTAMAAN DZIKIR

Ada sebuah lagu yang sering kita dengar tapi sangat jarang kita untuk memaknai lagu itu. Sebuah lirik yang jika kita dengan sungguh-sungguh mendengarnya, maka kita dapat memetik makna yang terkandung di dalamnya. Tentunya hidup kita akan selalu terasa indah. Masih ingatkah Anda dengan lagu “Obat Hati” yang dinyanyikan Opick?
Kalau Anda pernah dengar dan masih ingat Anda pasti menemukan salah satu suplemen untuk hati kita yaitu dengan memperbanyak dzikir.
Dzikir adalah sarana yang paling mudah untuk dapat mendekatkan diri dengan sang pencipta. Ada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa majlis-majlis dzikir adalah majlis malaikat. Di sini maksudnya adalah bahwa oaring-orang yang melakukan perkumpulan untuk berdzikir kepada Allah swt. Di situ malaikat akan ikut berkumpul juga. Jadi siapa yang tidak mau berkumpul dengan para malaikat satu-satunya makhluk Allah swt. yang diciptakan untuk selalu patuh pada Allah swt. Dan tak memiliki nafsu untuk berbuat tercela. Sesungguhnya dzikir mempunyai keistimewaan dari amalan-amalan lainnya.

TINGKATAN MANUSIA DALAM SHALAT

Manusia dalam hal shalat dibagi menjadi lima tingkatan, yaitu:
Pertama: ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam shalat, yaitu dalam menjalankan shalat orang itu menjalaninya dengan terpaksa. Biasanya dalam wudhu, waktu shalat, dan rukun-rukunya tidak lengkap.
Kedua: tingkatan orang yang menjaga shalat dari wudhunya, waktunya yang tidak mepet, dan rukun-rukun dalam shalatnya. Akan tetapi kurang dalam berkonsentrasi untuk sungguh-sungguh menegakkan shalat.
Ketiga: adalah tingkatan orang yang menjaga kekhusyukan shalatnya. Meskipun demikian dalam tingkatan ini orang tersebut akan sibuk untuk berkonsentrasi dalam shalatnya supaya tidak dicuri oleh setan yang terkutuk.
Keempat: ini merupakan tingkatan yang mendekati sempurna seperti pada tingkatan sebelumnya (ketiga). Orang pada tingkatan ini semua keinginannya dicurahkan dalam shalatnya. Hatinya telah tenggelam dalam menjaga dan menjalankan shalat.
Kelima: semoga kita mampu berada di tingkatan ini, yaitu tingakatan yang sempurna. Orang yang mendirikan shalat seperti di atas, akan tetapi hatinya sepenuhnya diletakkan kepada sang Pencipta Allah swt. Karena seakan-akan dia bertemu dengan Allah. Tidak terlintas di hatinya perasaan was-was dan mempersembahkan jiwa dan raganya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Label:


Minggu, 02 Mei 2010

PACAR PERTAMA-KU, KEKASIH SEUMUR HIDUP-KU

Kata temen-temennya, Tyo adalah laki-laki yang selalu ceria dan dia pandai berbicara. Kemampuan mengolah katanya boleh dikatakan mirip dengan reporter radio, pembawa berita atau justru saking sukanya ngomong malah kayak mercon yang suka meledak-ledak saat lebaran tiba, pokoknya sesuai dengan nama depannya, yaitu Heri alias Heboh Sendiri. Selama ada Tyo di situ pasti rame dan bikin semua ketawa terbahak-bahak sampai lupa segalanya, karena selain lucu dari segi fisknya yang gemuk dan imut-imut dia juga pandai sekali bercanda.
Setelah lulus SMA Tyo ingin sekali kuliah di UNS, yang kata orang untuk masuk di kampus itu sulit bangets, harus ngalahin banyak bangets saingan yang IQnya pada selangit. Tapi itu semua bukan masalah bagi Tyo yang sok kepedean abiz. Awalnya sih dia ingin sekali masuk di PGSD, ya kalu lulus Cuma jadi guru SD sih. He..he..he. tapi setelah tes tak disangka ternyata Tyo di terima juga di UNS, tapi tidak di PGSD, karena Tyo malahan diterima di FKIP di jurusan yang namanya boleh dibilang paling panjang dan lebai, yaitu Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah dan anak-anak suka menyingkatnya dengan BASTID. Ya Tyo harus terima takdir itu. Di dalam kelas itu, yang menjadi mayoritas adalah kumpulan anak-anak cewek, karena laki-lakinya Cuma 6 orang doang pada saat itu, sungguh menggambarkan adat feminisme yang sangat kental. Jadi boleh dibilang kalu ada cowok masuk jurusan ini pasti orangnya ganteng-ganteng, karena arjuna-arjunanya emang langka. Kata Dewi temen Tyo cowok-cowok di BASTID itu limited edition. Artinya gak ada duanya dan termasuk orang-orang yang antik dan penuh keunikan.
Dalam kelas itu, banyak banget cewek-cewek cantik baik yang berjilbab, maupun yang berdandan serba mini dan super ketat atau sering dikatakan yukensi pokoknya tumpah ruah di sini, tapi kebanyakan alim-alim kok, karena lebih banyak yang berjilbab dari pada yang tidak.
Pada saat OSMARU ada salah satu cewek yang mampu menarik perhatian dan memalingkan pandangan Tyo. Cewek itu adalah Desi. Desi adalah cewek berjilbab dengan kaca matanya, kulitnya walau kelihatan cuma sedikit tapi bener-bener putih dan halus, dia juga cewek yang bersemangat dan cerdas. Saat masuk pertama kali Tyo duduk di belakang Desi. Tyo terkagum-kagum dengan keanggunan Desi yang kayak putri jawa tulen, belum lagi kalau denger suara Desi yang begitu lembut, tapi jangan salah ternyata Desi galak juga kok. Sebenernya Desi adalah salah satu cewek yang cukup susah untuk dideketin, apalagi sama cowok yang nggak disenengin pasti bawaannya jutek muluk. Suatu hari, saat ujian semester genap berakhir Tyo mencoba mengajak Desi untuk jalan-jalan, ya niatnya cuma bercanda sih. Tapi entah ditanggepin atau ndak Tyo mengajak Desi.
“Des gimana kalo abiz ujian gini kita jalan-jalan. Ya kemana kek buat refersing”
“boleh juga tu Yo ? tapi aku lagi gak punya uang ni alias lagi bokek”
“ya kalo itu mah gak jauh beda dengan aku Des. He..he..he…”
“ya kapan-kapan kita atur lagi duweh acaranya, makasih ya…”. “ya sama-sama”
Setelah berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan Tyo mencoba mendekati Desi, namun ternyata seolah 1001 jurus maut Tyo untuk menaklukan hati Desi hasilnya nihil, karena Tyo tidak mempunyai kebernian untuk mengutarakan perasaan cintanya kepada Desi. Tyo sama Desi sebenarnya rumayan deket. Tapi kalu dilihat-lihat malah kayak temen tempat curhart gitu, karena setiap ada masalah pasti Desi selalu curhat sama Tyo.
***
Tyo dan temen-temen cowoknya yaitu Adit, adhi, Fajar, Anto, Riga dan Feri sehabis kuliah ataupun waktu istirahat seperti biasa mereka duduk-duduk dan tidur-tiduran di masjid sambil ngobrol-ngobrol seru bagets sampai terkadang lupa waktu, maklum lah cowok yang ada cuma itu, jadi kelihatan solit bangets. Bahan yang mereka obrolkan tentu saja tak jauh dari makhluk indah ciptaan Tuhan yang satu itu, yakni cewek-cewek BASTIND. Ya mereka kalau sudah di masjid itu pasti mereka asyik banget ngobrol, kebetulan tempatnya emang bener-bener sejuk dan pokoknya mantap bangets buat ngobrol sambil tidur-tiduran untuk melepas penat sehabis memeras otak saat kuliah. Sambil tiduran tanpa memandang siapapun tiba-tiba Tyo nyeletuk melontarkan pertanyaan buat Fajar yang membuat tubuhnya terdiam, kaku dan tak bergerak, seolah jantungnya sejenak berhenti.
“ ngomong-ngomong sekarang lagi deket ama siapa Jar?”
Belum sempat menjawab Tyo pun kembali nyeletuk
“ sama Rini ya?” trus gimana udah di utarakan belum perasaannya buat mbak Rini tercinta?” he..he..he..
Kemudian adit yang ceriwis bangets tiba-tiba ikut-ikutan nyeletuk “iya Yo skarang Fajar udah agak jarang ama kita, dia lebih suka ngejar-ngejar Rini dari pada kumpul-kumpul sama kita”
“ ya maklum lah Dit namanya juga lagi jatuh cinta. Dunia hanya milik berdua.”
Tak disangka Tyo mengalihkan pembicaraan ke Adhi “Lha kalau kamu gimana Dhi? Adhi yang ndak tau apa-apa sontak seketika diam sejenak menghelak nafas panjang. Adhit lagi-lagi menambahkan dengan gayanya yang kayak anak kecil lagi godain adiknya. “sekarang lagi deket sama siapa ni?”
Sambil tersenyum simpul Adhi menjawab “ya ada deh…, rahasia he..he..”
“lha kamu sendiri lagi ngedeketin siapa Yo?” tak disangka- sangka tyo ternyata mendapatkan giliran juga. Dengan suara yang gaguk, gagap dan malu-malu akhirnya Tyo pun menjawabnya juga.
“ya jujur ni aku lagi nyoba ngedeketin Desi, dia cantik sih, tapi dingin bangets kayak es..”
tiba-tiba adhit nyeletuk lagi. “ kalau Kanthi gimana Her?”
“lho kok Kanthi sih emang aku kelihatan lagi ngejar-ngejar dia ya?”
Karena tersipu malu Tyo pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan seketika. “eh temen-temen kayaknya udah mulai kuliah lagi tu, lagian ni juga udah jam sebelas ni.” Seolah belum puas dengan jawaban Tyo, Adhit terus mengejar dengan berkata “jawab dulu dong Yo, bener apa ndak?”
“ya lain kali aja pasti aku ceritain, ayo kita kuliah dulu” dosennya galak lho…”
***
Kanthi adalah gadis yang berasal dari Kebumen dia manis, namun agak sedikit gemuk. Awalnya Tyo tidak begitu kenal ama cewek ini apalagi sampai suka, cewek ini dikenal Tyo saat Tyo mau mengadakan acara pengakrapan bersama anak-anak bahasa Inggris, kebetulan kating (ketua tingkat) dari bahasa Inggris adalah teman satu kos Kanthi, jadi Tyo berkerjasama dengan Kanthi untuk mengefikskan acara itu. karena sering bersama, Tyo pun lama-lama dan diam-diam jatuh cinta ama Kanthi. Tyo makin hari makin perhatian sama Kanthi. Setiap Kanthi mau pulang kampung Tyo selalu nyempet-nyempetin untuk nelpun Kanthi dengan berbagai alasan yang dibuat-buatnya, ya terkadang cuma sekedar ngucapin semoga slamet sampai tujuan dan lekas ketemu sama bapak dan ibuk, dan bahkan terkadang hanya mengucapkan “hati-hati di jalan ya!”
***
Suatu ketika saat kumpul-kumpul seperti biasa di masjid, Tyo curhat dan mengutarakan isi hatinya kepada teman-temannya kalau dia sangat mencintai Kanthi dan ingin menjadi pacarnya Kanthi.
Seperti biasa Adhit lagi-lagi nyeletuk duluan “bener Yo kamu suka ama Kanthi? Bener gak nyesel?”
“emang kenapa Dit aku gak pantes dan gak ada harapan ya?
“he..he..he..” Anto temen satu kelompok Kanthi tertawa sambil senyum-senyum melihatku.
“emang kenapa Tok, aku gak pantes dan cuma malu-maluin ya?” “enggak Yo, kita pasti dukung kamu kok..” ntar pokoknya tak bantuin dweh”
tapi tetep saja Anto memandangku seolah meremehkanku dan terus menyindirku.
Setelah sekian lama Tyo menyembunyikan perasaannya, Tyo akhirnya memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya kepada Kanthi walopun cuma lewat sms dan Kanthi sedang berada di Kebumen. Kan Tyo paling gak berani ngutarain isi hatinya di depan cewek.
“Thi aku boleh ngomong sesuatu nggak ama kamu?, tapi kamu jangan marah ya!”
“ya tentu boleh lah…”
“Thi aku sebenere udah lama tertarik dan sayang ama kamu”
“sayang yang gimana maksudmu Yo?”
“ya aku sayang ama kamu sejak semester II dan aku pengen kamu mau jadi pacarku” seolah tersentak dengan ucapan Tyo lewat sms itu, Kanthi pun sejenak menghentikan smsnya dan seolah berpikir untuk memutuskan urusan Negara yang sangat beribet. Setelah beberapa saat menunggu dengan berharap-harap cemas akhirnya Hp Tyo yang menggunakan nada dering RnB berbunyi pertanda ada sms yang masuk. Tyo pun segera berlari menghampiri HPnya seolah mendapatkan anugerah yang sangat luar biasa. Tapi tak disangka ternyata diluar dugaan…
“ tapi maaf yo?”
“maaf kenapa Thi?”
“sebenere aku juga sayang ama kamu, tapi sebagai temen ndak lebih. Aku suka sama kamu karena kamu pandai banget ngomong di depan orang banyak, aku simpati sama kamu Yo. Tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu.”
“emang kenapa kamu gak mau jadi pacar aku? Aku gak pantes ya buat kamu?”
“ bukan itu Yo, maaf bangets yo aku udah ada yang punya. Jadi aku nggak bisa.”
“ ya udah deh, makasih ya udah mau nemenin smsan selama ini, makasih bangets atas jawabannya, tapi kamu masih mau kan temenan sama aku? Dan aku juga masih boleh kan sms kamu?”
“ya tentu boleh lah, kamu kan temen aku?”
Sejenak Tyo terdiam, dan tak disangka tetes demi tetes air mata mengalir dari matanya, hatinya memeng hancur, tapi setidaknya itu membuat Tyo agak sedikit lega. Yang jelas Tyo masih penasaran ama cowok yang jadi pacar Kanthi saat itu.
***
Setelah beberapa hari Tyo menyembunyikan kejadian yang mungkin bagi cowok cukup memalukan itu sendirian, akhirnya setelah beberapa hari berlalu Tyo tidak tahan dan Tyo mencoba mengutarakan semua isi hatinya kepada teman-temannya. Kebetulan sore itu, seperti biasa Tyo dan teman-temannya berkumpul di masjid untuk ngobrol-ngobrol sambil menunggu meredanya terik matahari yang saat itu begitu menyengat kota Solo. Ya setidaknya saat pulang nanti matahari sudah condong ke barat, bersembunyi dibalik gunung, merubah cahaya surya menjadi merona kemerah-merahan meninggalkan siang menuju senja dan berujung pada kegelapan malam.
Sore itu suasana sangat santai dan penuh sendau gurau, jauh dari suasana hati Tyo yang begitu memilukan yang menyesak didada. Di tengah suasana yang penuh canda tawa, tiba-tiba rona wajah Tyo berubah seketika, wajahnya menunduk seperti orang kehilangan semangat karena punya penyakit kronis yang tak bisa disembuhkan lagi. Secara cepat Adhit pun mencoba menanyakan keadaan itu kepada Tyo.
“ada apa Yo? Kok kayaknya hidupmu berat bangets, seolah dunia mau runtuh aja.”
“gak ada apa-apa kok Dhit” Tyo mencoba menyembunyikan.
“pasti masalah cewek… nyantai aja sob, ceritain aja pada kita siapa tau kita biasa bantu.”
“iya ni Dhit, aku kemaren ngutarain perasaanku ke Kanthi kalau aku sayang bangets sama dia dan ingin jadi pacarnya, ya walau cuma lewat sms sih”
“trus jawabannya gioamana Yo?” teman-teman sontak bertanya serentak dengan penuh antusias seperti ledakan bom molotof saat tawuran mahasiswa.
“pada sabar dikit napa. Mau tau jawabannya? Jawabannya…. Aku ditolak sama Kanthi, katanya dia udah ada yang punya.”
Namun pernyataan dari Tyo itu tidak ditanggapi secara serius oleh salah satu tenmannya. Bukannya ikut sedih tapi Anto temen satu kelompok Kanthi dan juga temen curhat Tyo malah senyum-senyum seolah ingin meledek dan ngajak bercanda di tengah kegentingan itu. Kelihatan sekali ada sesuatu yang Anto sembunyikan. Tyo pun ingin mencari tahu apa yang Anto sembunyiin selama ini.
“emang ada apa sih Tok? Kok kamu malah senyum-senyum gitu, emang kisahku kurang memilukan ya?”
Teman-teman Tyo tiba-tiba diam menunduk sesaat seolah merenungkan sesuatu, namun tak disangka setelah beberapa saat mereka serentak mengangkat wajahnya dan tertawa terbahak-bahak sambil berkata “kasihan bangets sih kamu Yo. Kanthi Itu udah punya pacar lagi.” “O ternyata kalian udah pada tahu ya kalo kanthi itu sudah punya pacar, kok kalian diem aja sih? Kalian pengen aku dipermaluiin ya? Puas kalian, kalian kok tega bangets ama temen sendiri.” Tyo marah-marah dan agak sedikit emosi.
Anto dengan gaya bicaranya yang berbelit-belit mencoba menjelaskannya
“Bukannya gitu Yo, kirain kamu juga udah tahu siapa pacarnya Kanthi.”
“emang pacarnya siapa sih?” bikin penasaran aja.” Tyo bertanya dengan menggebu-gebu.
“tu kan kamu nggak up date, pacarnya Kanthi itu kakak tingkat kita, itu lho yang pakai kaca mata dan super jenius, siapa lagi kalau bukan mas Arif”
“Ha… mas Arif, kalau dia yang jadi sainganku, udah aku nyerah aja deh, bakalan berat kalo aku harus saingan sama profesor.”
“Pantesan tiap kali aku bahas cewek yang satu itu kalian pada senyum-senyum yang bikin aku bertanya-tanya penasaran.”
Karena mungkin Tyo malu dia pun segera beranjak dari tempat di mana dia duduk. “ ya udah deh, yuk kita pulang, lagian juga sudah sore ni, aku pamit dulu aja ya… Asalamu’alaikum.” Tyo pun segera pulang dengan seribu Tanya “kok bias mas Arif… dan juga kenapa harus mas Arif… kenapa… dan kenapa…
***
Semenjak kejadian itu, kini Tyo tidak begitu lagi memperhatikan masalah cewek, apalagi sampai ngejar-ngejar cewek, seolah dia sudah jenuh dengan masalah cewek yang begitu ribet dan kadang bikin sakit hati. Kini dia kembali fokus terhadap kuliahnya. Apalagi bapaknya pernah menjajikan apabila dua semester berturut-turut Tyo berhasil mendapatkan IP (indek prestasi) yang terbaik Tyo akan dihadiahi sepeda motor VIXION baru yang sudah lama dia impikan. Meskipun target itu cukup berat atau bahkan mustahil, namun Tyo adalah sosok yang tak semudah itu menyerah. Kata Hany temen satu kelompoknya Tyo adalah sosok yang sangat perfeksionis. Itu artinya setiap ngerjain sesuatu, termasuk tugas kuliah Tyo selalu ingin lebih baik dan sempurna dibanding teman-temannya.
Namun di akhir semester Tyo dan teman satu kelompoknya mengalami masalah dengan tugas yang dihadapi. Tugas itu adalah membuat rekaman dengan berbagai logat bahasa daerah. Yang menjadi masalah adalah dalam kelompok itu semuanya adalah anak sekitar Solo. Jadi bahasa mereka sama. padahal dalam pembuatan tugas tersebut setiap anak dituntut untuk tidak hanya hafal kata-katanya saja namun juga harus bisa dan mahir dalam pengucapannya.
Di tengah kebuntuan itu mereka sering bertengkar dalam setiap latihan, karena mereka mempunyai pandangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Apalagi saat itu ada beberapa anak yang tidak rutin mengikuti latihan dengan berbagai alasan. Jadi tak heran kalau suasana kelompok jadi lebih horor dan menegangkan. Untung saja dalam suasana yang genting itu mereka sepakat untuk meminta salah satu dari teman untuk membantu. Haning pun mengusulkan Yanti yang kebetulan anak Tegal dan rumayan dekat dengannya. Tidak membuang-buang waktu mereka pun segera menemui Yanti dan mengajaknya dengan agak sedikit memaksa. Awalnya Yanti hanya bisa membantu mencari kata-kata yang bisa dimasukkan dalam dialog naskah rekaman saja, misalnya kata godong bodin yang artinya daun singkong, kata godong tropong yang artinya daun bawang, dan sebagainya. Namun karena mereka bukan anak asli Tegal, meskipun mereka latihan berkali-kali tetap saja logat mereka tetep logat Solo dan belepotan menirukan logat asli Tegal.
Hari rekaman pun akhirnya tiba, namun tetap saja persiapan mereka belum matang, dan masih banyak kendala. Pagi itu mereka berkumpul di lobi Gedung E FKIP UNS. Di situ mereka sibuk latihan dan mempersiapkan naskah dialog. Tapi ternyata naskah baru yang sudah mereka rapikan belum di print dan masih tersimpan dalam disket. Mereka segera mencoba geprint naskah itu di rental komputer, tapi ternyata disket itu eroor dan tidak bisa digunakan lagi. Mereka pun panik dan tidak ada jalan lain selain pulang lagi untuk mengambil soft file yang baru. Dalam situasi tersebut, karena terlalu lama menunggu beberapa anggota kelompok mereka pun tidak sabar menunggu dan memutuskan untuk pulang. Tinggal Tyo yang masih menunggu sendirian di lobi Gedung E.
Setelah beberapa jam Tyo menunggu, akhirnya Haning dan Ragil yang saat itu mengambil naskah dari rumah pun datang. Tapi karena Haning melihat ada beberapa anggota kelompok yang pulang, Haning yang mempunyai watak temperamental pun sontak marah-marah kepada Tyo. Haning memarahi Tyo karena Tyo mengijinkan anggota kelompoknya pulang sebelum Haning dan Ragil sampai. Tyo hanya bisa diam mendengar omelan Haning sambil sesekali memberikan sedikit argument agar kemarahan Haning sedikit mereda. Mereka kini hanya tinggal ber tiga. Namun karena tugas itu harus dikumpulkan besuk maka mau tidak mau tugas itu harus selesai. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk minta bantuan kepada Fery dan Yanti yang kebetulan bersedia untuk membantu.
***
Ada yang aneh dengan Tyo semenjak kejadian itu. Karena tak disangka semenjak kejadian itu diam-diam Tyo memendam rasa kepada Yanti. Rasa itu muncul karena Tyo simpati dan kasihan kepada Yanti yang harus berjalan setiap pagi dengan jarak yang rumayan jauh dari kos ke kampus. Tyo pun simpati dengan Yanti karena di mata Tyo, Yanti adalah sosok wanita yang sangat tegar, namun pemalu dan cenderung menutup diri. Dalam kegiatan sehari-hari Yanti lebih sering menghabiskan waktu sendirian di perpus untuk membaca buku dibanding ngobrol-ngobrol dengan temannya. Bahkan Yanti seperti nggak punya teman dan dianggap aneh oleh teman-temannya. Namun yang jelas saat itu Yanti sangat berjasa menyelamatkan kelompok Tyo dan rela meluangkan waktu seharian untuk membantu rekaman.
Semenjak Tyo pertama kali mengantar Yanti sampai di depan kos, rasanya ada yang beda, Tyo berangan-angan “seandainya aku bisa mengantarnya masuk kuliah tiap pagi…, seandainya aku bisa mengantarkannya pulang setiap hari…, seandainya aku bisa jadi pacarnya… pokoknya seandainya dan seandainya yang ada di benak Tyo saat itu. Tyo merasa kasihan kepada Yanti. Tapi kan Yanti kata Hany udah punya pacar di Tegal sana, kayaknya nggak ada harapan bagi Tyo. Tapi Tyo pantang menyerah. “ya tapi kan minimal bisa jadi temen deketnya, biar bisa bantu kalau dia kesulitan atau sekedar ngehibur dia dengan lelucon yang gombal dan menggelitik disaat dia sedih.”
Meskipun agak aneh tapi Tyo cukup tertarik dan antusias menjalin hubungan dengan Yanti. Itupun cuma sekedar jadi temen dan hanya lewat sms. Namun walo cuma lewat sms terkadang tak jarang Tyo memberikan sms mesra untuk merayu Yanti. Entah karena takdir atau apa, hubungan mereka berdua seolah direstui oleh Tuhan, karena pada awal semester tiga tak disangka dan tak diduga Hany dan Yanti ikut ke dalam kelompok Tyo sebagai anggota baru setelah salah satu anggota kelompok mengundurkan diri dari perkuliahan.
Mereka pun semakin dekat, walau setiap ketemu mereka jarang ngobrol dan masih malu-malu, namun hal itu tidak berlaku dalam setiap kata dalam smsnya, karena dalam sms mereka seolah sudah sangat akrab dan cukup mesra. Tapi agaknya sms Tyo yang semakin intens mulai mengganggu hubungan antara Yanti dengan pacarnya, sampai pada suatu hari sms Tyo dibaca oleh pacar Yanti dan Yanti pun dimarahi pacarnya dan disuruh menghentikan hubungannya dengan Tyo.
Tyo lantas segera menyadari kesalahannya yang sudah mengganggu pacar orang lain. Semenjak itu, sudah seminggu lebih Tyo tidak lagi smsan dengan Yanti begitu pun juga sebaliknya. Namun karena Tyo sudah terlanjur jatuh cinta kepada Yanti akhirnya Tyo tidak tahan dan kembali memberanikan diri untuk memulai lagi smsan dengan Yanti. Tapi entah kebetulan atau entah apa Yanti malah menangis sambil memberi kabar kalau dia sudah putus dengan pacarnya. Sebenarnya walau itu yang Tyo harapkan, namun Tyo tidak lantas senang. Tyo juga merasa bersalah, karena seolah Tyo yang menjadi dalang putusnya hubungan Yanti dengan pacarnya. Namun kata Yanti Tyo tidak ada hubungannya dengan putusnya hubungan itu.
Melihat kondisi itu, Tyo mencoba menghibur dan menenangkan hati Yanti yang sedang gundah, Tyo hanya bisa menemani Yanti lewat sms dan sesekali mengajaknya bercanda saat berkumpul satu kelompok atau saat sedang mengerjakan tugas bersama. Ada tugas klompok yang menjadi kenangan yang tak terlupakan antara Tyo dan Yanti. Pada saat pembuatan tugas akhir semester mereka berduet menyanyikan lagu yang mereka beri judul “HILANG” yang diaransemen langsung oleh Yanti dari lagunya Aca Irwansyah. Berhari-hari mereka latihan bersama di rumah Ragil dengan diiringi melodi gitar oleh saudara-saudara Ragil.
Kebetulan setiap kali pulang latihan dari rumah Ragil, Yanti selalu mau diboncengin Tyo untuk pulang ke kos dengan sepeda motor TANDER hitam kepunyaan Tyo saat itu. Sembari menyetir melewati hamparan persawahan menjelang senja, dengan sangat pelan-pelan dan berharap supaya tidak cepat melepaskan moment itu, Tyo banyak ngobrol dengan Yanti yang membut mereka semakin dekat dan akrab.
Tidak selang beberapa lama Tyo pun akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya kepada Yanti kalau selama ini sesungguhnya dia kagum dan sayang bangets kepada Yanti serta ingin jadi pacar Yanti. Yanti tidak semudah itu menerima Tyo untuk jadi pacarnya. Namun berkat kegigihan Tyo, akhirnya Tyo diterima menjadi pacar Yanti setelah Tyo memberanikan diri untuk mengutarakan secara langsung mengenai isi hatinya kepada Yanti. Kenangan yang tak terlupakan itu bertempat di kos melati sekitar bulan Oktober 2008 dengan bayang-bayang resiko ditolak untuk kesekian kalinya. Akhirnya dalam seumur hidupnya baru pertama kali Tyo mendapatkan pacar. Sejak hari itu Tyo pun berjanji akan setia dan sayang sama Yanti sampai dirinya meregang nyawa menghembuskan nafas terakhir.
***

Label:


3 WANITAKU

Menikah… Itulah kata yang selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku. Lima tahun yang lalu aku pernah merasakannya, tapi sekarang aku sudah lupa. Untungnya aku masih ingat wajah istriku yang telah mendahuluiku bertemu dengan Sang Pencipta. Sebulan terakhir ini aku sedang dekat dengan wanita yang wajah dan bentuk tubuhnya belum kulihat. Jika kau tidak gaptek tentulah tahu dunia maya. Media komunikasi manusia berbagai penjuru dunia dari kota yang megah dan dusun terpencilpun bisa terjamah. Namanya Tanti. Dia mengaku tinggal di Bogor, kota yang selalu menjadi kambing hitam ketika banjir melanda Jakarta. Sedangkan aku tinggal di daerah Pantura kota Bahari.
Aku tinggal tidak sendiri, sikembar selalu menghiburku ketika aku dalam kesepian. Tawanya yang menggemaskan serta lincah membuat aku masih betah menduda selama empat tahun. Yana dan Yani anakku, mereka tumbuh tanpa pernah merasakan ASI dari ibunya.
***

Hesti tersenyum manis menyambutku setiap kali aku pulang kerja. Aku bahagia dan merasa sangat beruntung menjadi lelaki yang bisa menikahi wanita yang konon masih ada keturunan dengan priyayi dari keraton Solo. Aku tidak begitu menghiraukan silsilah istriku karna aku tak mau ambil pusing. Yang ku tahu hanyalah aku mencintainya dan aku ingin menikah dengannya. Ternyata pilihanku tepat. Baru satu bulan kami menikah Tuhan telah menitipkan janin di perut istriku. Aku senang bukan kepalang. Keluargaku menyambutnya dengan penuh sukacita. Malam ini aku mengajak Ayah, Ibu, Mas Rohman, dan kedua adikku Toni dan Ridho serta orang yang paling penting Hesti ¬¬¬¬--- istriku yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu --- pergi ke sebuah Restoran Sea Food dekat dengan pantai tempat aku dan Hesti dulu dan sampai sekarang sering memadu kasih.
Malam ini aku ingin memberikan yang terbaik untuk calon ibu dari anakku. Telah kusiapkan segala sesuatu dari yang biasa sampai yang luar biasa. Intinya aku ingin memuaskan dan membahagiakan dia sampai ke puncak orgasme yang paling nikmat. Aku terinspirasi ide ini dari sebuah acara televisi yang menayangkan beberapa cara membahagiakan istri saat di ranjang. Sebelum memulai semuanya aku ingin dimulai dari sebuah adegan dimana saat dulu tujuh tahun yang lalu aku memintanya untuk bersedia menjadi pacarku. Aku melangkah mendekati istriku yang sedang menyisir rambutnya yang terurai panjang, harum, dan lembut. Sesungguhnya aku sudah tidak tahan untuk segera memulainya, hanya dari mencium wangi rambutnya aku sudah bisa menikmati wangi bagian tubuh yang lain dan secara cepat membangunkan bagian tubuhku.
“Hesti” aku memanggil istriku. Dia menoleh sambil penuh tanya, karna setelah kita resmi berpacaran aku membiasakan diri untuk memanggilnya dengan sebutan ayank dan sampai kita menikah.
“apa mas?” kembali kulihat keningnya mengernyit.
“ga papa kok, aku cuma mau ngasih ini buat kamu” kuberikan sekotak coklat. Aku tahu Hesti suka coklat dari temanku Rini dan saat itu saat ku akan menembaknya, aku membongkar celengan ayam jagoku untuk membelikan coklat seharga enam ribu perak. Untungnya tabungan yang baru kuisi lima belas hari itu sudah mencapai dua belas ribu tujuh ratus rupiah. Jadi aku bisa membeli dua buah coklat, satu untuk Hesti dan satunya lagi untuk kedua adikku Toni dan Ridho.
“lho ini kan udah malem, aku juga udah gosok gigi, kenapa dikasih coklat?” agaknya Hesti belum menyadari. Sambil tersenyum dia menerima coklat itu. Kaki kiriku sedikit kutarik ke belakang dan aku berjongkok posisinya seperti pangeran mengajak sang putri menari. Tangan kanan istriku yang jemarinya begitu lembut kupegang dengan penuh hati-hati takut sampai tergores dengan tanganku yang kasar ini. “Hes,,, kamu suka coklat kan?” istriku mengangguk. Persis seperti saat aku dulu menyatakan cintaku. “kalo sama aku, Andi yang berkulit coklat ini, apa kamu juga menyukainya?” tepat seperti yang kukira, Hesti telah menyadarinya bahwa aku mengulang adegan yang tak pernah bisa kami lupakan. Hesti merengkuh tanganku dan mengajakku berdiri. Tersenyum dan memelukku. Dan yang terjadi di kamar indah ini adalah hal-hal yang indah pula.
***

Aku tidak tahu kemana aku harus pergi membeli infus dan obat-obatan sesuai dengan resep yang diberikan dokter. Karna sekarang adalah pukul sepuluh malam. Semua apotek pasti sudah tutup. Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku langsung menelpon teman sepermainanku Ezi. Kutanya dimana aku bisa menebus resep dokter, sedang tidak ada apotek yang masih buka. Ezi seorang apoteker yang bekerja di sebuah apotek tapi sayang jaraknya lumayan jauh dari rumah sakit tempat istriku bersalin. Ezi bersedia membantu mengantarkan aku ke apotek tempatnya bekerja. Malam ini juga aku harus ke Brebes untuk memperoleh obat-obat yang sangat sedang dibutuhkan istriku. Aku harus menempuh jarak kira-kira empat sampai lima puluh kilo meter dengan mengendari sepeda motor. Ezi mengemudi dan aku membonceng di belakang. Bukan karna aku tidak bisa mengendarai sepeda motor melainkan aku kalut dengan keadaan ini. Aku tidak siap. Tiba-tiba saja dokter yang membantu persalinan istriku mengatakan bahwa kondisi istriku kurang baik untuk melahirkan, lemah dan dapat membahayakan sang ibu. Dokter menyarankan untuk operasi cesar agar istriku bisa beristirahat saat dibius. Tapi istriku tetap ngeyel, dia ingin anak pertamanya dilahirkan dengan normal tanpa ada operasi. Kalo sudah yang namanya ingin, Hesti tidak bisa diubah lagi, sepintas kulihat istriku baik-baik saja dan nampak bahagia menunggu kelahiran si mungil. Istriku meyakinkan aku bahwa dia baik-baik saja, dia ingin merasakan perjuangan seorang ibu yang bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak. Karna ibunya selalu menceritakan pengorbanan dan perjuangannya saat melahirkan anaknya Hesti yang kini menjadi istriku. Ia bersikeras agar kelak ia bisa menceritakan pada anaknya tentang rasanya melahirkan dan perjuangannya mengeluarkan seorang bayi. Aku tidak bisa memaksa dan dokterpun akhirnya manut dengan permintaan istriku.
***

Belum selesai teriakanku yang sangat bahagia melihat putriku lahir ternyata istriku belum selesai perjuangannya, ia masih harus mangeluarkan sisa-sisa tenaganya untuk melahirkan satu lagi bayi yang ada dalam perjalanan mencari pintu keluar. Dan lagi-lagi anugrah itu lahir ke dunia. Aku dikaruniai dua putri kembar yang cantik dan manis. Rasanya aku ingin segera menggendong kedua putriku di pangkuanku dan mengantarkan mereka untuk disusui ibunya. Ketika kupanggil mesra, istriku tetap tidak bergerak, dia tertidur pulas karna begitu lelah. Tapi ada rasa yang mengganjal dalam hatiku. Aku saat ini bahagia mendapatkan dua putri seperti yang didamba-dambakan keluargaku tapi hatiku gelisah. Sekali lagi kupanggil Hesti dengan kecupan yang paling lembut dan belaian di pipinya, tetap saja istriku tidak bergeming. Dadaku sesak. Aku takut istriku pergi. Segera kupanggil dokter dan beberapa suster serta keluarga yang sedang berebut ingin menggendong kembar di luar kamar inap. Semua ingin ikut masuk. Ingin mengetahui yang terjadi. Dalam hati tak henti-hentinya kupanjatkan doa dan harapan serta ampunan yang pernah kulakukan pada siapapun aku berharap istriku baik-baik saja.
Dokter keluar dengan sedikit senyum yang menurutku dipaksakan.
“istri bapak baik-baik saja” alhamdulilah………...tapi,
“hanya saja istri bapak mengalami dehidrasi yang hebat, istri bapak butuh banyak cairan dan beberapa obat-obatan yang di rumah sakit ini tidak tersedia, jadi bapak harus menebusnya di apotek luar.” Lututku lemas, hampir saja aku terjatuh tapi aku masih bisa menguasai diri.
“jam segini apa masih ada apotek yang buka dok?” dokter hanya menyerahkan selembar kertas berisi tulisan yang tidak bisa terbaca, apa semua dokter harus seperti ini tulisannya? Pikirku sejenak mengamati secarik kertas ini.
***

Orang-orang sudah pulang dan tinggal aku sendiri duduk di depan makam istriku Hesti, kekasihku yang paling aku cintai. Selama proses upacara pemakaman aku tidak hentinya bertanya dalam hati, setelah kamu pergi siapa yang akan membangunkan aku sholat tahajud? Siapa yang akan membangunkan bagian tubuhku yang kau bilang lucu? Siapa yang akan menyusui kembar? Siapa yang akan tersenyum manis menyambutku saat pulang kerja? Siapa yang…, siapa yang…, aku tidak tahan dengan bendungan air mata yang sudah tidak sabar keluar muncrat dan mengalir sampai aku lelah.
***

Aku berharap aku tidak terlambat memberikan obat yang kubeli sampai menempuh jarak lima puluh kilo meter dari Tegal kota tempatku tinggal sekarang. Dan betul saja istriku masih terbaring tapi sudah siuman dari pingsannya karna suster memberikan suntikan yang ku tak tahu kandungannya. Segera kucium pipinya yang halus dan kurengkuh tubuhnya yang tak bertenaga itu. Aku begitu takut kehilangan istriku yang paling kucintai ini. Setelah kondisi istriku membaik dokter mengijinkan besok istriku bisa pulang.
Aku begitu lelah dan kini kuterbangun dari tidurku yang lelap disamping istriku. Kami bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Si kembar telah dimandikan dan harum telon membuat aku ingin menciumi anak-anakku tapi ibuku melarang karna aku belum mandi. Istriku tersenyum melihat kelakuanku yang seperti anak kecil karna senang mendapatkan adik baru. Belum sempat aku beranjak ke kamar mandi tiba-tiba istriku terbatuk-batuk, aku pikir karna dia tadi tertawa geli melihat tingkahku, bukan tertawa. Istriku batuk-batuk dalam waktu yang relatif lama tidak seperti batuk biasanya. Dan keluarlah darah dari mulutnya, dia memegangi dadanya, kulihat dia susah bernafas. Aku panggil siapa saja untuk menolong Hesti. Tangannya memegangiku dan berbisik “mas aku sayang kamu, jaga anak kita. Maaf tugasku telah usai. Jaga diri mas baik-baik.” Kupegangi tangan istriku yang mulai dingin. Lidahku kelu dan aku tak mampu harus berbuat apa. Kelopak matanya yang indah perlahan menutup. Sekali lagi aku berusaha memanggil siapa saja untuk menolong istriku. Tapi takdir tidak menolongnya.
***

Tanti mengajakku menikah. Buatku ini terlalu cepat, karna kami memang belum sempat ngopi darat. Kami memang sudah berkirim foto lewat email. Agaknya Tanti gadis baik dan dari keluarga baik-baik. Dia sering mengirimkan paket untuk Yana dan Yani, kadang baju, sepeda mini untuk balita, tas punggung, dan masih banyak lagi. Aku tidak menyangka dia akan melanjutkan pertemanan kami sampai hubungan serius. Sebenarnya aku hanya iseng saja, untuk mengisi kesepianku karna sudah empat bulan aku ditinggal kekasihku Sari. Aku kenal Sari saat kembar baru berumur tiga bulan. Sari masih duduk di bangku SMA kelas 2. Cantik, pintar, dan baik. Sari tidak seperti gadis seusianya yang manja dan sering merengek minta dibelikan ice cream atau dibelanjakan baju model terbaru di Mall. Sudah dua tahun aku mengenalnya dan aku menaruh hati padanya. Sayang dia masih seumur jagung masih bau kencur, aku harus menunggu gadis berkulit sawo matang itu lulus dari kuliah itu yang menjadi cita-citanya menikah setelah kerja biar bisa bantu mama. Sari memang gadis penurut tapi dia cerdas dan kritis dengan berbagai hal yang menurutnya ganjil. Tapi sekarang setelah aku berpacaran dengannya selama satu tahun dia meninggalkanku. Itu karna ulahku sendiri. Aku tidak bisa menahan hasrat yang terpendam bertahun-tahun setelah istriku meninggal. Aku ingin menjamah gadis lugu itu. Sari begitu ketakutan saat ku keluarkan bagian tubuhku yang menurut istriku lucu, tapi bagi Sari sangat menakutkan. Dia menjerit dan menamparku keras! Hampir saja aku terjungkal karna Sari pernah mengikuti Pencak Silat.
Aku menyesal jika mengingat apa yang pernah kulakukan pada gadis lugu itu. Meskipun, usianya masih belia, tapi dia begitu lembut dan mampu memberikan perhatian seperti yang pernah istriku dulu berikan. Ketika aku disampingnya aku merasa istriku masih hidup dan jiwanya masuk ke dalam raga Sari. Senyum manisnya selalu mengingatkanku pada Hesti. Namun, sekarang Sari begitu membenciku, air mataku mengalirpun dia tidak memperdulikanku dan mungkin Sari tak akan pernah bisa memaafkanku.
***

Persiapan pernikahan hampir selesai dan aku begitu santai tidak seperti dulu saat pertama kali aku akan menikah dengan Hesti. Aku tidak sebahagia dulu dan setiap malam aku merindukan Sari. Aku ingin sebelum ku melepas masa dudaku, aku bertemu dengan Sari, paling tidak ingin mengucapkan rasa sesalku dan aku ingin dia tahu bahwa aku masih sangat mencintanya. Jujur saja aku tidak begitu menyukai Tanti. Dia memang lebih dari aku. Usianya lebih tua dan secara materi dia lebih unggul. Harusnya aku merasa beruntung tapi sayang sekali ada yang membuat aku begitu merindukan Sari. Sari begitu mirip dengan Hesti dan Tanti tidak lebih cantik dari Sari.
Glosarium
Gaptek = gagap teknologi
Sea Food = makanan dari jenis ikan laut
Cesar = operasi melahirkan
Ngeyel = keras kepala
Manut = ikut
Ngopi darat = bertemu langsung

Label:


Madrasah Cinta

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah
pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus
ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama
pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu
kepastian dari seorang bidan; “positif”.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali
benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak
berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si
kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah
ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya
tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya,
ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu
bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar
tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang
terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-
anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan
bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga,
kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap “Ma…”, segera ia
mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar
telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara
haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari
pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah
awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus
menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak
terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di
tengah jalan.
“Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di
pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang
kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam
tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya,
setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.
Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil
baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.
Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan,
demi anak.
Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas,
periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah
anak, 2. Beli susu anak …, nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang
lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi
prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan
susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa
pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak
pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan
menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi
puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.
Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan
menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya
menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun,
mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu
yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen
didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus
menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura
si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata
barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya
menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun
mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan
anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling
ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta
merta kalimat, “sudah makan belum?”, tak lupa terlontar saat baru saja
memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang
dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli
makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan
terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama
pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu
menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera
air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah
hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum
bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati
yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi
hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam
harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara
tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan
berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila
Ibu meninggal, Ibu ingin anak-anak Ibu yang memandikan. Ibu ingin
dimandikan sambil dipangku kalian”. Tak hanya itu, imam shalat
jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma Ibu
mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.
Duh Ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana
mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil Ibu telah
mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya,
sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: Cinta. Sekolah yang
hanya punya satu guru: Pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya
diberi satu nama: Yang Dicinta.

Label:


PINK

Aris, dialah lelaki itu yang sering Wiwi ceritakan kepada Anita. Menurutnya lelaki itu sangat baik dan rupawan. Anita tidak suka dengan senyumnya karena baginya senyum itu tidak tulus hanya semata untuk menggaet wanita bodoh yang mudah termakan bujuk rayu seorang lelaki. Wiwi malah tambah kagum dengan sosok Aris yang baginya adalah lelaki yang paling sempurna, tidak jarang dia tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi Wiwi adalah teman yang baik untuk Anita. Wanita penyuka warna biru itu sungguh baik dan ringan tangan dalam menolong sesama termasuk teman sebangkunya Anita. Sebaliknya, Anita sangat menyukai warna merah muda yang banyak orang menyebutnya warna pink, warna cewe banget, warna cengeng, dan apalah yang bagi sebagian orang warna pink itu tidak berkarakter. Lain halnya dengan biru, yang penuh semangat, tegas tapi tetap lembut.
Aris lagi-lagi sengaja menampakkan senyumnya yang menurutnya adalah jurus terjitu untuk menarik lawan jenis. Wiwi memang tidak salah, dia punya mata yang masih normal, wanita lain pun akan ke-ge er-an jika selalu diperhatikan lelaki ganteng seperti Aris dengan lesung pipit di sebelah kanan saat dia tersenyum.
Agaknya makna yang terkandung dalam warna kesukaannya mulai meluber, kini Wiwi jadi cenderung melankolis, romantic, tapi tetap egonya masih saja tinggi.
Dengan beratnya yang hanya 30 kg jauh dari berat normal wanita usia kelas 1 SMA, Anita tetap pede dan dia juga tidak minder dengan tubuh cacatnya yang tangan, kaki, dan badannya tidak seperti teman yang lain. Yang setiap jam pelajaran olahraga dia hanya bisa duduk dan melihat dari jendela, jangankan untuk pemanasan yang sekedar lari-lari kecil memutari lapangan basket, untuk jalan pun dia kesusahan, makanya dia memilih kelas yang di lantai bawah karena jika di lantai 2 dia akan sangat merepotkan orang tuanya dan temannya termasuk Wiwi teman sebangkunya, karena hanya Wiwi yang bersedia menggendongnya. Teman yang lain hanya kasian dan merasa jijik dekat-dekat dengan Anita. Bagi mereka Anita itu sebaiknya tidak bersekolah di SMA favorit se Kabupaten ini, dan dia lebih tepat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa yang tersedia kursi roda untuk penyandang cacat seperti Anita.
Lagi-lagi Anita sibuk membuat kartu ucapan di bangkunya, dia sering menyibukkan dirinya dengan kegiatan seperti itu agar teman yang lain tidak usah berbasa-basi untuk menemaninya terkecuali Wiwi dengan senang hati selalu mau berbagi dan bercerita dengan sahabat terkuatnya yang kebanyakan teman lain menganggap lemah. Padahal kalo diamati menurut Wiwi, Anita adalah sesosok wanita yang tangguh, dia pede dengan kecacatannya dan dia menganggapnya bukan sebuah kekurangan akan tetapi kelebihan yang tersebunyi agar dia tidak ria dan tidak digunakan untuk berbuat dosa.
Semalam Wiwi bermimpi berlari-lari menangkap kupu-kupu yang beterbangan di taman, sungguh indah dan menyenangkan, sampai bangun tidurpun Wiwi lupa bahwa Anita itu tidak bisa berjalan apalagi berlari mengejar kupu-kupu.
Pagi hari di kelas
Wiwi: “Nit..Nit… dengerin deh, semalem aku mimpi aneh tapi indah banget!” (wiwi sangat berantusias menceritakan mimpinya)
Anita: “emang mimpi apaan Wi?” (Anita penasaran tapi dia masih sibuk dengan menggambar pola untuk kartu ucapannya)
Wiwi: “semalem aku mimpi kamu bisa jalan!... amazing kan? Udah gitu kita bareng-bareng ngejar kupu-kupu di taman kota, amboi…. Kupu-kupunya indah nian…”
Anita: “sayang aku ga bisa jalan” (seketika wajah Wiwi muram mendengar respon Anita yang pesimis)
Wiwi merasa aneh dengan sikap Anita, dia tidak biasa berwajah muram jika diceritakan sesuatu yang amazing dan menakjubkan baginya. Biasanya Anita sangat antusias dan tidak kalah hebohnya dengan Wiwi.
Wiwi: “Nit.. maafkan aku ya kalo aku dah nyinggung kamu. Aku cuma..”
Anita: “udah ga papa lagi Wi.. nih udah jadi kartu ucapannya..”
Wiwi melongo… Anita membuatnya dengan bentuk kupu-kupu yang indah, tapi masih berwarna putih, Anita memintanya untuk mewarnainya dengan warna-warna yang cantik
Anita: “Wi tolong dikelirin ya.. yang cakep” (kelir=warna)
Wiwi mengangguk.
Kesokan harinya Wiwi telah selesai mewarnai kartu ucapan dengan warna yang cantik. cenderung warna biru. Setelah Anita melihatnya dia kurang senang, karena dia mengharapkan kupu-kupu itu berwarna pink. Seharian itu wajah Anita murung dan sendu jauh dari kata ceria, Wiwi juga ga mau ngalah dia tanpa merasa bersalah dengan Pedenya bilang “suka-suka aku dong warnainnya, aku kan sukanya warna biru, warna yang berkarakter ga kaya pink, ih…warna apaan tuh, warna cengeng”. Anita sungguh kecewa dengan sikap Wiwi. Tiba-tiba Aris lewat di depan kelas, Wiwi langsung beranjak menemui Aris dan memberikan kartu ucapan itu. Anita makin tidak suka karena memang dari awal dia tidak menyukai Aris.
Keesokan hari Anita tidak masuk sekolah, di surat ijin tertulis sakit. Wiwi mencibir Anita, “ah.. paling dia ngambek kupu-kupunya aku warnai biru”. Kenyataannya Anita memang sakit.
3 hari sudah Anita tidak berangkat, Wiwi agak cemas juga, dia cukup menyesal dengan sikapnya yang kasar, dia berencana bersama Aris dan teman-teman sekelas untuk menjenguk Anita. Dia memungut sumbangan dari teman-temannya dengan mematok seribu rupiah untuk dibelikan buah-buahan. Wiwi tau buah kesukaan Anita yaitu melon dengan aroma dan kesegaran buah itu Wiwi yakin dia akan memaafkan tingkahnya yang seperti anak kecil serta ia berharap semoga Anita lekas sembuh.
Tetapi rencana itu gagal karena teman-teman yang lain membatalkan untuk menjenguk Anita
Wiwi: “kenapa dibatalin apa dia udah sembuh?”
Vina: “soalnya Anita udah ga ada”
Wiwi: “maksud lo dia dirawat di rumah sakit gitu?”
Rudi: “gak wi..”
Wiwi: “lha trus kenapa?”
Satu persatu teman-temannya menunduk, tidak ada yang berani mengungkapkan sebenarnya. Wiwi benar-benar bingung dia masih saja positif thinking berharap Anita baik-baik saja. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan bahwa Anita telah tiada, pergi selamanya terbang bersama kupu-kupu ke taman yang terindah di Surga yang abadi.
Satu penyesalan yang selalu terngiang dalam kepalanya, andai saja Wiwi memenuhi keinginan Anita untuk memberi warna kupu-kupu dengan warna pink, ah… segalanya sudah terjadi.
Kini Wiwi tidak pernah menjelek-jelekkan warna pink lagi malah dia menyukai warna tersebut, yang menurutnya mengandung warna kelembutan, romantic, dan jauh dari kesan kasar.
I love pink
I love my best friend..

Label:


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Postingan [Atom]